HAMOT, laskar rakyat pembela Ratu Belanda

Sebuah ide datang dari Letnan Koert Bavinck. Pria berumur 21 tahun ini mulai merekrut anggota Laskar Rakyat untuk bergabung ke pasukan Belanda. Sebanyak 300 anggota Laskar Rakyat setuju bergabung ke pihak Belanda. Mereka diberi nama HAMOT, singkatan dari Hare Majesteits Ongeregelde Troepen (Pasukan Liar Sri Ratu).

Anggota terdiri dari mantan Laskar Rakyat yang berasal dari Jawa Barat. Beberapa dari mereka merupakan kriminal yang dicari lantaran membunuh warga Eropa pada masa bersiap. Para kriminal tersebut diberi pengampunan dengan syarat harus bertempur bersama pasukan Belanda.

Emblem HAMOT

Emblem HAMOT

Pasukan ini tergabung di divisi 7 Desember. Bambu runcing dengan mahkota diatasnya menjadi emblem dari tentara tentara bumiputra ini. Bentuknya sangat mirip dengan emblem divisi 7 Desember. Sang mentor sekaligus komandan, Letnan Koert Bavinck merupakan veteran perang dunia kedua. Prestasinya di Indonesia juga meningkat setelah berhasil menangkap seorang pemimpin geng bernama Handji Pandji yang terkenal menakutkan di sekitar Jakarta serta menembus garis pertahan musuh hanya berdua menggunakan jip di Karawang. Disanalah dia mulai merekrut tentara lokal.

HAMOT melancarkan aksinya pada tanggal 21 – 23 Juli 1947, saat agresi militer Belanda 1. Mereka berhasil menyelamatkan beberapa beberapa jembatan di Cikampek. Bersama  kelompok Brigade infanteri ke 2, wilayah Cikampek, Cimalaya, Karawang, Majalengka, Kuningan, Pamanukan, Purwakarta, serta Indramayu.

Atas prestasinya ini, Letnan Koert selaku komandan diganjar medali kehormatan,  diberikan langsung oleh Jenderal Spoor.

Terlepas dari prestasinya, pasukan ini juga terkenal kejam. Biasanya mereka menjarah rumah dan menebar teror di wilayah kekuasaan Belanda. Dengan latar belakang kriminal, tidaklah heran jika mereka terus menebar teror, baik di wilayah Belanda maupun Indonesia.

Tentara HAMOT di Karawang

Tentara HAMOT di Karawang

Seiring berjalannya waktu, pasukan kriminal ini dipercaya menyusup ke pasukan TNI, menjadi penerjemah, dan bahkan menebar teror. Berbeda dengan KNIL yang merupakan tentara reguler, HAMOT terdiri dari penjahat seperti pencuri, bandit, dan pejuang kemerdekaan yang membelot. Sehingga sikap disiplin tidak ada sama sekali.

Setelah Indonesia merdeka, sebagian besar eks HAMOT kembali ke dunia hitam, menjadi kriminal kembali. Jika tidak beruntung, mereka tewas terbunuh dalam pertempuran atau dibunuh oleh rakyat dan tentara karena dianggap pengkhianat.

3-9_RI_schoudertitel_op_800x471

Sumber:

http://www.hetdepot.com/3-9RI.html

https://www.tracesofwar.com/persons/62892/Bavinck-Koert.htm?c=aw

http://www.indie-1945-1950.nl/web/2ibg.htm

https://nimh-beeldbank.defensie.nl/memorix/1adf9e38-a16f-976c-9a4a-011763c5d859

http://www.militairespectator.nl/thema/geschiedenis-operaties/artikel/extreem-nederlands-militair-geweld-tijdens-de-indonesische

https://banditgendut.wordpress.com/tag/laskar/

Sepenggal sejarah di Rengasdengklok

Mobil melaju memasuki kecamatan Rengasdengklok. Tujuannya tak lain adalah rumah bersejarah tempat Bung Karno singgah setelah dibawa oleh pemuda. Memerlukan waktu 2 jam dari Tangerang untuk sampai ke lokasi. Akhirnya rumah bergaya Tionghoa tersebut menampakkan diri setelah melewati gapura kecil. Sekarang rumah ini dimiliki oleh pak Yanto, cucu dari Djiaw Kie Siong, seorang pengusaha yang mengizinkan rumahnya ditempati oleh Bung Karno.

Setiap malam 16 Agustus, banyak wisatawan yang berkunjung untuk mengenang penculikan keluarga Bung Karno dan Bung Hatta. Sekarang rumah ini telah berpindah dari lokasi awalnya di pintu air sungai Citarum. Namun karena abrasi, pada tahun 1957 berpindah lokasi. Didalam rumah, hanya ruang depan dan kamar keluarga Soekarno dan Hatta sajalah yang dipertahankan.

IMG-20170828-WA0003

teras rumah Djiaw Kie Siong

Foto Djiaw Kie Siong terpampang di ruangan depan. Foto dan penghargaan memenuhi ruangan depan. Sebagian benda asli dibawa ke Bandung untuk ditaruh di museum. Kamar Bung Karno dan Bung Hatta bersebrangan. Hanya lemari dan ranjang yang terlihat masih asli. sebuah laci terlihat di ranjangnya keluarga Bung Karno. Menurut pak Yanto, itu adalah tempat penyimpanan dokumen.

Pintu depan juga masih asli bergaya Tionghoa. Dilengkapi selot kayu dengan kunci rahasia yang dulu digunakan saat masa peristiwa gedoran. Sayang sekarang kuncinya rusak sehingga ditambah dengan selot biasa.

Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Rengasdengklok dipilih sebagai tempat pengasingan tokoh revolusi karena dekat dengan markas PETA yang dipimpin oleh perwira yang loyal terhadap cita-cita kemerdekaan. Masih ada serdadu PETA yang loyal kepada Jepang. Sekarang markasnya sudah tidak ada. Lokasinya dibangun tugu kebulatan tekad pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri.

IMG_20170819_120603_HDR

foto Djiaw Kie Siong

16 Agustus 1945, Bung Karno beserta keluarga dan Bung Hatta diculik oleh pemuda karena terlalu memihak Jepang padahal faktanya Jepang telah kalah dalam Perang Dunia 2, walau masih memiliki kekuatan di Indonesia. Perjalanan menuju Rengasdengklok memakan waktu kira-kira 4 jam. Tiga peleton PETA telah berjaga di lokasi.

Rumah milik seorang pengusaha peti mati, bernama Djiauw Kie Siong dipilih sebagai rumah peristirahatan para tokoh proklamasi karena rumah tersebut dianggap paling aman. Para pemuda mendesak agar Bung Karno segera membacakan proklamasi sebelum sekutu masuk ke tanah air. Saat itu Bung karno maupun Bung Hatta belum percaya Jepang sudah kalah.

IMG-20170828-WA0004

Pak Yanto bersama istrinya, bu Lina

Pagi harinya, Ahmad Soebadjo datang dengan berita bahwa Jepang telah menyerah. Akhirnya, para tokoh proklamator dipulangkan. Bung Karno dan Bung Hatta bersama Ahmad Soebardjo menemui para tokoh revolusi di rumah Laksamana muda Tadashi Maeda. Disanalah naskah proklamasi lahir.

Peristiwa di Rengasdengklok merupakan peristiwa penentu kemerdekaan Indonesia. Jika pemuda tidak menculik Bung Karno, mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan terjadi akibat campur tangan Belanda dengan sekutu. Hingga akhirnya nusantara ini tetap menjadi jajahan Belanda hingga waktu yang tidak ditentukan.

Dari alur sejarah tersebut, kita bisa menyimpukan bahwa kemerdekaan Indonesia didukung oleh beragam etnis dan agama. Mereka berjuang tanpa memperhatikan perbedaan etnis maupun agama. Peristiwa Rengasdengklok merupakan salah satu contoh bhinneka tunggal ika.

IMG-20170828-WA0005

bersama sejarawan Rushdy Hoesein

Kisah di Rawagede

Sebuah monumen menjulang tinggi diantara perumahan warga. Dibelakangnya terdapat Taman Makan Pahlawan bernama Sampurna Raga. Tempat tersebut merupakan peristirahatan terakhir bagi korban pembantaian Rawagede yang mencapai 430 orang. Tepat pada tanggal 9 Desember 1947, sepasukan Belanda datang ke Desa Rawagede dengan tujuan menangkap seorang perwira BKR bernama Kapten Lukas Kustaryo, komandan kompi divisi Siliwangi yang selalu merepotkan Belanda. Aksinya seperti menyerang pos-pos militer dan membajak Kereta, demi merebut senjata beserta amunisinya. Atas aksinya, dia dijuluki “Begundal Karawang”.

Rawagede menjadi basis pejuang kala itu karena daerahnya yang berdekatan dengan rel kereta Karawang-Rengasdengklok. Markas pejuang pada kala itu adalah rumah penduduk. Komandan yang bertugas di daerah tersebut adalah Kapten Lukas. Setelah bertempur dengan Belanda di daerah Cikampek, sang komandan meloloskan diri dengan berjalan kaki menuju Rawagede. Dia sampai sehari sebelum kejadian.

IMG_20170819_175754_HDR

 

Kehadirannya tercium oleh mata-mata Belanda, kemudian perintah berisi penyerbuan ke Rawagede turun pada pukul 4 sore. Beruntung Kapten Lukas bersama anak buahnya pergi meninggalkan Rawagede untuk menyerang Cililitan pada pukul 3 sehingga dirinya tidak mengetahui akan penyerangan Belanda. 300-400 serdadu Belanda dibawah Mayor Alphons Wijnen mulai memasuki desa, setengah jam setelah perintah turun.

Satu persatu rumah digeledah untuk mencari tempat persembunyian sang kapten. warga desa yang hendak melarikan diri, dicegat atau dibunuh. Semua warga baik wanita maupun pria dikumpulkan di luar rumah masing-masing untuk diberi keterangan tentang keberadaan si begundal. Semuanya memilih menutup mulut. Aksi tutup mulut ini meresehkan Belanda. Mayor Alphons memerintahkan anak buahnya untuk menembak setiap lelaki berumur 15 tahun keatas.

Setiap lelaki dikumpulkan di satu tempat dan dieksekusi. beberapa dari mereka berhasil kabur dengan cara melarikan diri ke hutan dan bersembunyi di kali rawagede sambil berenang menjauh. semua yang sembunyi dieksekusi di tempat, bahkan satu persatu daun pisang yang berada di sungai ditusuk dengan bayonet untuk memastikan tidak ada orang dibaliknya. Pembantaian dilakukan seharian penuh hingga keesokan harinya pasukan Belanda pergi.

IMG_20170819_175335_HDR

Secara tidak sengaja, kami melewati sebuah perkampungan saat menuju monumen rawagede. Jalanan rusak dan tidak beraspal membuat mobil kami bergoyang sesuai irama jalan. Selain rumah warga, hamparan sawah juga menemani kami selama perjalanan. Bisa dibayangkan betapa seriusnya pasukan Belanda menangkap seorang komandan pejuang yang suka mengganggu mereka. Pada saat itu pasti dibutuhkan beberapa jam perjalanan, bahkan tank ikut dikerahkan hanya untuk mengakhiri Begundal Karawang ini.  

Menjelang azan maghrib, akhirnya sampai di monumen tersebut. Seorang nenek-nenek menyambut kami dengan ramah. Dia membukakan pintu monumen menuju ke makam di belakangnya. Didalam monumen terdapat diorama tentang kejadian saat itu. Nenek penjaga bercerita bahwa ayahnya turut menjadi korban pembantaian. Sekarang yang merawat pemakaman ini adalah warga sekitar. Setiap tanggal 9 Desember, diperingati sebagai hari pembantaian rawagede.

Menurut sejarah, janda atau ibu korban menguburkan suami dan anak mereka masing-masing. Mereka menggalih tanah sedalam 30 cm dan mayat hanya ditutupi dengan kain kelambu, kemudian dikubur. Selama beberapa hari, bau amis masih tercium, bahkan jika hujan kadang mayat bisa terlihat akibat dari tanah menjadi basah. Pada tahun 1951, pemerintah memindahkan mayat-mayat yang telah menjadi tulang berulang ke Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga. Dari 431 mayat, hanya 181 mayat saja yang berhasil dipindahkan.

IMG_20170819_174929_HDR

Pemerintah Indonesia menuntut aksi Belanda ini ke PBB. Akan tetapi tuntutan tersebut tidak pernah diurus hingga pada tahun 2008, kasus Rawagede kembali mencuat setelah Komisi Utang Kehormatan Belanda bersama 9 Janda korban dan 1 korban selamat menuntut  kembali pemerintah Belanda. Kali ini perjuangan yang dilakukan membuahkan hasil. 14 September 2011, gugatan 10 orang warga Rawagede dikabulkan, pihak Belanda diwajibkan pemberian ganti rugi kepada korban.

Tragedi Rawagede kembali menjadi sejarah. Setiap tanggal 9 Desember, keluarga korban mengunjungi TMP Sampurna Raga untuk menyekar. Saat ini Monumen Rawagede sedang dikunjungi wisatawan karena bertepatan dengan hari kemerdekaan. Pembantaian Rawagede hanyalah salah satu dari segelintir kejahatan perang yang dilakukan oleh Militer Belanda.

IMG_20170819_175159_HDR

Sang Kusuma Yudha

Pada tanggal 1945, saat itu Indonesia telah mencapai kemerdekaan Ir. Soekarno dan Drs.Mohammad Hatta telah dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Pada masa ini, rakyat Indonesia tengah membangun negara, banyak warga yang masuk ke dalam BKR atau Badan Keamanan Rakyat. Di saat yang sama Jepang telah kalah dalam Perang Dunia 2.

Banyak pasukan BKR melucuti senjata pasukan Jepang dan digunakan kembali. Di beberapa daerah Indonesia terjadi perang antara rakyat dengan pasukan Jepang karena mereka tidak mau menyerahkan senjata mereka. Namun ada pula peperangan yang terjadi karena hal lain, misalnya daerah yang masih dibawah pendudukan tentara Jepang. Banyak rakyat yang ingin daerahnya masuk ke dalam Republik sehingga terjadi peperangan.

Ribuan pasukan bersenjata bambu runcing menyerang setiap pos dan markas Jepang, termasuk di Solo. Solo saat itu sedang terjadi kekacauan, pasukan Jepang terbelah menjadi dua, yaitu: pasukan Jepang pendukung kemerdekaan dan pasukan Jepang penentang kemerdekaan.

Di saat kekacauan tersebut, hiduplah seorang pemuda yang bernama Jayakartika atau biasa disebut Jaka. Pemuda yang berumur 17 tahun ini telah menjadi prajurit KNIL sejak tahun 1944. Sekarang dia masuk BKR sebagai anggota pasukan berpengalaman. Pangkatnya adalah kopral, dia tergabung ke dalam pasukan Kompi Bima dari Brigade V/ Panembahan Senopati pimpinan Letnan Kolonel Slamet Rijadi.

Badan Keamanan Rakyat Sumber: http://belajarsejarah.blogdetik.com/2014/10/25/reorganisasi-tentara-indonesia-1945-1946

Badan Keamanan Rakyat
Sumber: http://belajarsejarah.blogdetik.com/2014/10/25/reorganisasi-tentara-indonesia-1945-1946

Saat itu Jaka ditugasi untuk melucuti senjata pasukan Jepang di setiap pos yang berada di sana. Tugas tersebut dilaksanakan Jaka bersama 50 temannya yang di tugasi tugas yang sama. Mereka berpencar mencari setiap pos yang mereka temui, sementara Jaka mencari bersama 9 temannya. Mereka menemukan 40 pos. Jaka mendapatkan 200 senjata laras panjang, 200 pistol, dan 350 amunisi.

Senjata tersebut dibawa oleh truk untuk dibawa ke markas. Jaka melanjutkan tugasnya, dia sekarang mendapatkan 50 granat, 20 senapan mesin dan 110 amunisi. Selesai melucuti senapan pasukan Jepang, dia berkempul kembali di Markas besar BKR Solo untuk merundingkan penyerangan ke markas utama pada malam hari.

Keadaan di ruang strategi sangat kacau, banyak perwira yang memberi usul dan strategi namun ada yang menolak strategi tersebut. “Tenang saudara-saudara sekalian !” Ujar seorang pria yang dari tadi diam.

Semua orang memandang pria tersebut dengan rasa hormat. “Kalian semua selalu membuat masalah, mengapa kalian tidak menghargai pendapat yang lain ? Jika kalian selalu berdebat, maka tidak bisa membuat rencana dengan baik !” ujar pria tersebut.

Di saat yang sama, datang Jaka sambil membawa peta kota Solo untuk membuat rencana yang lebih baik. Semua orang memandang Jaka dengan sedikit heran karena tidak pernah ada prajurit yang masuk ke dalam ruang strategi kecuali ajudan.

“ Ini dia peta yang anda inginkan Jenderal Sunandi.” ujar Jaka.

“ Terima kasih Kopral Jaka” jawab pria yang bernama Jenderal Sunandi.

Jenderal Sunandi membuka peta tersebut dan menaruhnya di meja perundingan. Kemudian beliau meletakkan bendera Jepang dan Indonesia untuk menunjukkan letak pasukan Jepang dan Indonesia.

“Kita akan menyerang di arah timur, barat, selatan, dan utara”

“Selain itu kita juga harus mengepung markas tersebut agar mereka tidak bisa keluar untuk meminta bantuan” ujar Jenderal Sunandi menunjukan strateginya.

Semua orang setuju dengan usul Jenderal Sunandi, mereka pun mulai mempersiapkan penyerbuan tersebut. Sementara itu Jaka kembali ke kompinya yang dipimpin oleh Kapten Soenarja. Di saat yang sama, terlihat Kapten Soenarja sedang mempersiapkan pasukannya.

“Kapten Soenarja, saat ini kita akan menyerang dari mana ?” tanya Jaka.

“Kita akan menyerang dari arah selatan dan kau akan memimpin peleton 3 karena saat ini Sersan Budi sedang dikirim ke Yogyakarta untuk menjaga ibu kota” Jawab Kapten Soenarja.

***

Malam harinya, Seluruh pasukan dari Markas BKR terlihat keluar dengan 20 truk. Seluruh pasukan duduk sambil memegang senjata mereka. Tidak terlihat ketakutan akan kematian dari wajah mereka, yang mereka pikirkan hanya satu, yaitu membela Republik yang baru lahir.

Rombongan mereka telah sampai di markas besar Jepang di dekat Keraton Solo. Semua Pasukan telah bersiap di posisi dan bersiap untuk menyerang. Tanpa disadari oleh pasukan Jepang, markas mereka telah dikepung oleh pasukan BKR.

Jaka bersama anak buahnya telah berada di pintu selatan Markas Pasukan Jepang. Tidak ada penjaga yang berjaga di pintu selatan sehingga mereka tidak sulit untuk masuk ke dalam markas. Dalam hitungan menit, mereka telah menguasai pintu selatan. Tanpa menunggu lama, mereka masuk kedalam markas.

Didalam markas tidak ada prajurit Jepang sama sekali dan gelap. Anak buah Jaka telah menyebar ke segala penjuru markas. Jaka sendiri memimpin sebagian anak buahnya masuk ke bagian dalam markas.

Mereka masuk terus ke dalam markas dan menemukan suatu ruangan yang terang. Jaka mendekat untuk melihat kedalam lewat celah pintu. Didalam terlihat Pasukan Jepang sedang berpesta, mereka tidak menyadari kalau ada yang mengintip lewat celah pintu. Jaka menjauh dari pintu dan mulai bertanya kepada anak buahnya.

“Kalian mau menyerang atau melewati mereka ?” tanya Jaka kepada anak buahnya.

“Kami memilih menyerang dari pada melewatinya” jawab anak buahnya.

Tiba- tiba terdengar pintu tadi terbuka. Jaka bersama anak buah bersembunyi di belokan menuju jalan yang sebelumnya dilewatinya. Dari dalam ruangan, keluar seorang prajurit Jepang yang terlihat mabuk. Prajurit tersebut menuju ke arah Jaka tak berapa lama Jaka memasang bayonet di senapannya untuk membunuhnya. Prajurit tersebut terus mendekat namun tidak menyadari keberadaan Jaka yang akan segera bergerak mendekatinya. Begitu prajurit sudah sangat dekat, tanpa menunggu lama, Jaka sontak mengarahkan bayonetnya prajurit itu terkejut namun sudah terlambat, Jaka berhasil menusukkan bayonet, dan seketika sang prajurit menjadi lemah. Jaka bersama anak buahnya langsung menyerbu ke ruangan. Jaka masuk terlebih dahulu, mereka menodongkan senjata kepada seluruh prajurit Jepang di ruangan tersebut. Seluruh prajurit Jepang seketika terkejut sekaligus heran karena banyak pasukan Indonesia.

Tentara Jepang
Sumber: http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/95?q_searchfield=military+indonesia

Satu persatu senjata pasukan sudah direbut dan hanya disisakan katana agar sekelompok prajurit Jepang itu tidak marah. Ada seorang anak buah Jaka yang bernama Kopral Jono. Dia tertarik dengan katana yang dipegang oleh seorang prajurit Jepang yang bernama Ichida. Kopral Jono mengambil paksa Katana milik Prajurit Ichida.

“Apa yang kamu lakukan ?!” tanya prajurit Ichida saat katananya direbut paksa.

Karena Prajurit Ichida sangat kuat, Kopral Jono tidak berhasil sekaligus terjatuh tidak kuat menahan kehebatan Ichida. Prajurit Ichida marah dan menghunuskan katananya kepada Kopral Jono. Sementara anak buah Jaka yang lain melindungi Kopral Jono. Sebaliknya prajurit Jepang yang lain segera membela Ichida sehingga mereka mulai menyerang dengan katana masing- masing.

***

Situasi di ruangan tersebut sangat kacau, dari kedua belah pihak terus menyerang. Anak buah Jaka terus menyerang dengan ganas, sementara dari pihak lawan pun tak mau kalah banyak prajurit Jepang yang mati karena mereka hanya bersenjata Katana. Jaka menyerang setiap prajurit Jepang yang mendekatinya.

“ Kita dalam masalah !” ujar salah satu anak buah Jaka tiba-tiba.

Ia menunjuk ke arah pintu keluar. Semua orang menoleh ke arah itu dan benar saja secara tiba- tiba masuklah beberapa prajurit Jepang bersenjata lengkap. Jaka melawan prajurit yang baru datang tersebut, dia menembakan beberapa peluru ke arah prajurit hingga beberapa mati seketika.

“Kita harus mundur dari sini !” perintah Jaka kepada anak buahnya.

“Baik Pak !” jawab semua anak buah Jaka. Satu persatu anak buah Jaka keluar dari ruangan, sisa prajurit Jepang tidak di pedulikan.

“Kalian mau kemana ?!” tanya seorang prajurit Jepang sambil mengejar anak buah Jaka.

“Kami harus pergi karena ada tugas lain” jawab Jaka sambil bergegas pergi dari tempat itu.

Jaka berlari dengan cepat karena dia dikejar sisa prajurit Jepang tadi. Beruntung dia cerdik, dia lari menuju satu ruangan yang kosong dan bersembunyi di balik pintu. Sisa prajurit Jepang terpancing menuju ruangan tersebut. Saat semua prajurit Jepang telah masuk kedalam, Jaka keluar dari ruangan dan menguncinya sehingga mereka semua terkurung.

***

Keadaan di dalam markas mulai berisik, pasukan Jepang melawan dengan sekuat tenaga. Pasukan BKR terus menyerang dan menguasai markas Jepang. Sementara itu, pasukan Jepang bertahan di dekat ruang rapat dimana Jenderal Yamada, pemimpin besar pasukan Jepang di Solo sedang membuat rencana.

Jaka bersama sisa anak buahnya menyerang ruang rapat dimana Jenderal Yamada berada. Pasukan Jepang mulai menembakan senjata mesin mereka, sementara anak buah Jaka bersama Jaka menyerbu pasukan Jepang tersebut.

Anak buah Jaka banyak yang gugur di penyerbuan. Tak menunggu waktu lama, Jaka melemparkan granat ke arah senjata mesin dan meledaklah granat itu. Jaka bersama sisa anak buahnya menyerbu ke arah senjata mesin dan berhamburan masuk ke ruang rapat.

Di ruang rapat, terlihat Jenderal Yamada sedang melakukan Harakiri atau tradisi bunuh diri Jepang agar dirinya tidak dipermalukan. Jaka tidak setuju dengan hal itu karena dia tidak suka melihat orang menderita. Sontak Jaka berlari menuju jenderal Yamada dan merebut paksa katana yang digunakan untuk Harakiri. Beruntung Jaka berhasil mengambilnya dan mematahkannya.

Tiba-tiba, dari radio Jenderal Yamada terdengar suara anak buah Jenderal Yamada sedang berpidato. Suara pidato jenderal bawahan Yamada terdengar ke seluruh markas Jepang.

“Kepada seluruh Pasukan BKR, dengan ini kami mengumumkan bahwa kami menyerah tanpa syarat kepada kalian. Sekarang tolonglah agar kalian keluar dan mengobati seluruh korban luka”. Semua pasukan BKR yang mendengar pidato, menurut dan merekapun berhenti mnyerang.

***

Keesokan Harinya, Pasukan BKR terlihat sedang keluar dari markas besar Jepang, disusul oleh pasukan Jepang. Beberapa dari mereka membawa jenazah dan korban luka. Korban luka dibawa ke rumah sakit PKO atau Panti Kesehatan Oemoem di dekat Kesultanan Solo. Sementara jenazah pasukan Jepang akan dibawa ke Jepang dengan kapal penjelajah Jepang dan Jenazah pasukan BKR akan di bawa ke keluarga korban. Markas besar Jepang sekarang di kuasai Pasukan BKR dan Solo sudah dikuasai penuh oleh prajurit BKR. Tapi Jepang masih ingin menguasai bagian yang subur termasuk Solo.

TNI Yogyakarta

TNI Yogyakarta
Sumber: http://djokja1945.blogspot.co.id/2015/03/bangunan-di-yogyakarta-zaman-perjuangan.html

Jaka keluar dari markas besar Jepang, dia ingin beristirahat dahulu karena semalaman belum tidur. Namun dia belum bisa tidur sekarang karena datang utusan dari Jenderal Sunandi.

“Kopral Jaka, anda diperintahkan Jenderal Sunandi untuk menghadap di ruangannya” jelas sang utusan. Jaka sedikit bingung mendengar perkataan utusan tersebut karena belum pernah ada yang dipanggil oleh Jenderal Sunandi. Walau sedikit bingung, Jaka tetap pergi. “Baik !

“Saya akan pergi kesana” jawab Jaka sambil memberi hormat.

Jaka bersama utusan tersebut akhirnya sampai dimarkas BKR. Dia langsung pergi menuju ruangan Jenderal Sunandi. Sesampainya di ruangan, Jaka masuk dan memberi hormat kepada sang Jenderal.

“Hormat, saya mau bertanya, ada apa Pak ?” tanya Jaka dengan takut.

“Saya suka dengan aksi kamu di markas Jepang dan gayamu bertarung” jawab Jenderal Sunandi. Jaka lega karena tidak ada masalah.

“Karena aksi kamu yang sangat bagus, saya menaikan pangkatmu menjadi sersan dan pemimpin tetap di peleton 3” ujar Jenderal Sunandi tersenyum kepada Jaka.

Jaka sangat senang karena bisa menjadi pemimpin. Pengangkatan Jaka terjadi pada tanggal 5 Oktober 1945, tanggal tersebut bertepatan dengan penggantian nama angkatan perang Indonesia menjadi TKR atau Tentara Keamanan Rakyat.

***

Pada tanggal 22 Agustus 1945, seorang prajurit TKR dari Aceh datang ke Markas Besar TKR di Yogyakarta, prajurit tersebut tergesa-gesa menuju ke ruangan panglima besar Soedirman yang saat itu sedang mengurus pasukan.

“Ada apa ?” tanya Panglima Besar Soedirman dengan heran.

“Maaf Jenderal, tetapi Pasukan Belanda mendarat di pulau Sabang dan Weh” jelas prajurit itu.

“Apa?!” ujar Panglima Besar Soedirman terkejut.

Panglima Besar Soedirman langsung memerintahkan seluruh pasukan TKR di Sumatra menyerang Aceh.

Namun pada tanggal 25 Okober 1945, Belanda atau pasukan NICA (Netherland Indies Civil Administration atau pemerintah sipil Hindia Belanda) datang bersama sekutu (yang diketuai Inggris). Pasukan tersebut mendarat di pantai pasir putih dan menguasai Surabaya.

Pasuka Belanda terus menyerang untuk menguasai seluruh Indonesia. Saat itu Pasukan Belanda telah mencapai Purwokerto, namun pasukan TKR menahannya di perbatasan sehingga laju Belanda terputus. Kesempatan itu digunakan oleh Panglima Sudirman untuk mengerahkan pasukan ke seluruh Jawa guna membantu pasukan di Purwokerto.

Marinir Belanda Sumber: http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/start/118?f_trefwoord%5B0%5D=military+action

Marinir Belanda
Sumber: http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/start/118?f_trefwoord%5B0%5D=military+action

Disaat yang bersamaan, Jaka bersama Divisinya dikirim untuk menyerang pasukan Belanda. Perjalanan menuju medan perang dimulai denga menaiki kereta api.

Sesampainya di Purwakerto terlihat banyak warga sipil yang berdesak-desakan untuk mengungsi ke kota lain. Jaka turun dari kereta dan pergi menuju markas TKR dimana sudah bersiap pasukan TKR Purwakerto. Bersama anak buahnya Jaka langsung menaiki truk dan pergi ke medan pertempuran. Dari raut wajah pasukan, tidak terlihat ketakutan sama sekali.

Truk melaju dengan kencang agar cepat sampai di medan pertempuran. Jaka bersama anak buahnya maju di barisan terdepan dan mulai menembakan senapan mesin ke pasukan Belanda.

“Kalian semua cepat menyerang ! Pasukan Belanda mulai mendekat.” kata Jaka lantang.
Tiba-tiba terdengar suara seorang prajurit berteriak “Tank !”.

Jaka melihat Tank yang dimaksud oleh prajurit itu. Tank tersebut terus maju mendekat hingga dekat denga garis pertahanan Jaka. Tanpa di sadari, pos senjata mesin di belakangnya meledak terkena tembakan tank. Jaka mulai berpikir sesuatu, dan tanpa waktu lama Jaka mendapatkan ide yang sangat cemerlang namun nekad.

“Lindungi aku !” perintah Jaka kepada anak buahnya.

Jaka berlari kearah tank tersebut dan menaikinya, dia masuk kedalamnya dan menyerang orang yang mengendarai tank tersebut. Sekarang Jaka mengusai tank musuh. Dengan semangat Jaka mulai menyerang pasukan Belanda.

Tank di jawa
Sumber: http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/9?q_searchfield=Tank

Namun usaha Jaka terhenti karena pasukan Belanda maju dengan didukung 20 tank dari Surabaya. Jaka bersama anak buahnya mundur ke garis belakang karena pasukan Belanda telah memasuki Purwokerto. Pasukan Belanda memeriksa setiap tempat kalau-kalau ada pasukan TKR yang tersisa.

Jaka dan pasukannya mundur meninggalkan Purwokerto, mereka akan membuat pertahanan di daerah Cilacap dan Kebumen. Kereta menuju Cilacap dan Kebumen hanya tersisa 1 dan kereta itu juga tidak bisa menampung banyak orang.

Karena tidak bisa menampung banyak orang, komandan Pasukan TKR Purwokerto memerintahkan untuk membawa korban luka dengan kereta, sementara pasukan yang tersisa akan menaiki truk ke Cilacap dan Kebumen. Banyak korban luka yang diangkut ke kereta dan beberapa pasukan tentara menaiki kereta untuk melindunginya.

Sementara peleton 3 pimpinan Jaka tidak termasuk pasukan yang menaiki kereta, tetapi ikut dalam truk bersama sisa pasukan. Truk yang tersedia ada 20 truk ditambah 2 tank Jepang yang menjaga dan ada 1 truk yang digunakan untuk membawa amunisi juga bahan bakar.

***

Peleton 3 berada di truk bagian depan bersama peleton 1 pimpinan Sersan Mulia. Sang sersan duduk di dekat Jaka.

“Hebat sekali aksimu tadi !” ujarnya tiba-tiba

“Tidak usah dikagumi, aku hanya berpikir dan melakukan aksi tersebut” ungkap Jaka dengan wajah berseri.

“Tapi aksi tadi susah dilakukan karena didalam tank itu masih ada tentara Belanda” kata sersan Mulia sambil tersenyum kepada Jaka. Mereka berdua akhirnya mengobrol, dan memuji kehebatan Jaka.

Tanpa disadari, mereka telah sampai di Cilacap. Begitu sampai, mereka semua turun dan pergi ke perbatasan antara Jawa timur dengan Jawa Tengah. Untuk menahan Pasukan Belanda yang di perkiraan akan datang. Di tengah persiapan untuk menahan, Jaka mendapatkan telegram dari markas pusat di Yogyakarta. Isi telegram tersebut tertulis :

“Kepada Sersan Djaka
Kami dari pimpinan poesat menjampaikan bahwa anda telah diangkat menjadi Kapten oentoek memimpin Kompi Bima. Anda saja angkat karena Kapten Soenarja telah diangkat sebagai Kolonel dan menjadi salah satu pemimpin Divisi Siliwangi. Dengan ini kami kami mengoetjapkan selamat atas pengangkatan anda dan kehebatan anda di medan perang
Salam Jenderal Abdullah.”

Jaka senang mendapatkan kenaikan pangkat, Dia langsung mengumpulkan seluruh pemimpin peleton dari Kompi Bima untuk membuat strategi perang. Seluruh pasukan dari Kompi Bima ikut senang dengan kenaikan pangkat Jaka, menurut mereka Jaka pantas menjadi pemimpin karena kehebatan dang kecerdikannya. Mereka pun berkumpul untuk mendengar strategi Jaka.

***

Di hari- hari berikutnya, Kapten Jaka memimpin pasukannya untuk mengusir Belanda dari Nusantara ini, Dia bersama Kompi Bima telah berjasa atas penahanan laju Belanda untuk menguasai Cilacap. Selanjutnya dia mengikuti serangkaian operasi militer lainya yaitu: Serangan Umum 1 Maret 1949, Serangan Umum Solo, dan Bandung lautan api. Selain pertempuran kemerdekaan, Jaka juga pernah mengikuti operasi-operasi militer pasca kemerdekaan: Trikora, penumpasan RMS, dan Dwikora.

Di setiap peperangan, Jaka selalu mengandalkan keberanian dan kecerdikannya. Namun saat melawan pasukan RMS, dia teringat kawannya mati ditembak pasukan baret hijau Belanda didikan Westerling.

Karena keberaniannya, Jaka dijuluki “Sang Kusuma Yudha”. Julukan tersebut selalu melekat dengannya karena dia selalu membela negara demi mendapatkan kemerdekaan dan akan terus selalu membela negaranya kapanpun.

Pejuang di tanah penjajah

Suara obrolan dan candaan memenuhi ruang kelas. Keadaan di Universitas Leiden normal seperti biasa. Mahasiswa Belanda dan mahasiswa dari tanah kolonial saling bertukar pikiran tanpa memandang latar belakangnya (Walau masih ada diskriminasi, tapi tidak banyak). Suara – suara kelas berhenti seketika saat dosen jurusan ekonomi memasuki kelas.

“Sekarang mari kita mulai pelajarannya !” Pandangan siswa tertuju ke dosen sambil menyiapkan catatan.

“Setya ! Tolong ambilkan kapur !” perintahnya. Tubuhku beranjak dari kursi, kulirik jendela untuk menghilangkan bosan. Pandanganku berubah melihat rombongan pesawat memasuki langit Leiden. Pikiranku mengatakan bahwa mereka bukan pesawat sembarangan.

“Mau apa pesawat-pesawat itu ?” kata-kata itu terucap seketika melihat pesawat telah mencapai atas Universitas. Semua siswa melihat rombongan itu termasuk sang dosen dengan mulut ternganga.

Rombongan tersebut menjatuhkan sesuatu. benda yang dijatuhkan tersebut ternyata bom. Bom meledak-ledak di seluruh bagian kota. Beribu-ribu peledak dijatuhkan hingga kota luluh lantak tersapu ledakan dan api. Bom mulai memasuki area kampus. Mahasiswa yang berada di lapangan bergegas mencari tempat berlindung.

Kekacauan terjadi diseluruh kampus. siswa-siswa yang panik mulai berlarian keluar dari gedung. Tujuan utama mereka adalah ruang bawah tanah. Aku berlari menuju lantai dasar dimana semua orang berkumpul untuk memasuki ruang bawah tanah. Lautan manusia membanjiri lantai dasar. Beberapa diantara mereka terluka atau bahkan kehilangan anggota tubuhnya. Beberapa pria menolong orang yang terjebak di luar.

“Aku perlu sukarelawan !” seorang polisi berteriak meminta tolong “Aku perlu sukarelawan untuk menolong orang diluar”

“Saya bersedia !” pria didekatnya semua mengajukan diri termasuk aku. Kami semua menolong orang yang terjebak di antara bom yang berjatuhan. Tidak jarang beberapa diantara kami yang terkena akibat langsung dari ledakan.

Kota Rotterdam setelah dihantam bom
Sumber: http://www.scientificpsychic.com/etc/jeff/Jeff-Noordermeer-Rotterdam001.html

Satu persatu korban di dibawa masuk ke kampus. Dokter dan mahasiswa kedokteran mengurus semua korban luka. “Awas !” Kudengar suara peringatan dari arah kampus. Tanpa diduga sebuah bom meledak di depanku. Tubuhku terhempas hingga menghantam tembok kampus. Samar-samar suara langkah kaki mendekat, kemudian tidak terdengar lagi.

Teriakan dan tangisan terdengar dimana-mana. Samar-samar kubuka mata dan melihat kenyataan pahit. Orang-orang korban keganasan Jerman dirawat disini, banyak diantara mereka adalah wanita dan anak-anak. “Sudah sadar rupanya” Seorang temanku asal hindia timur mengunjungiku. “Tenang kau berada di rumah sakit darurat sekarang !”

“Ada apa ini ?”

“Jerman telah mengbumi hanguskan kota. Sri ratu telah pergi meninggalkan Belanda menuju Inggris. Tepat hari ini, Belanda telah menyerah”

Rasa terkejutku tidak bisa terbendung, “Jadi maksudmu…”

“Ya, kita dijajah Nazi dan terputus dari Hindia.”

                                                               ***

GERAKAN BAWAH TANAH PI

Tepat pada tanggal 15 Mei 1945 Belanda menyerah kepada Nazi Jerman. Ratu Wilhelmina bersama perdana menteri dan kabinetnya mengungsi ke Inggris dan mendirikan goverment-in-exile. Orang yang ditugaskan memimpin Belanda adalah seorang Nazi Austria, Reichskommissar Arthur Seyss-InquartSemua kontak dari negara jajahan Belanda terputus sehingga warga asal negara jajahan terjebak, tidak bisa menghubungi sanak keluarga disana.

Kupercepat kayuhan sepedaku. Setelah dua hari di rumah sakit akhirnya aku dipulangkan. Keadaan di kota jauh berbeda seperti sebelumnya. Tentara pendudukan berkeliaran dimana-mana. Sesampainya di kampus, Yudha telah menunggu kedatangan sahabat baiknya. “Apa kabar teman !”

“Hei Yudha akhirnya aku bebas !” kami berjabat tangan sebentar sambil bercerita pengalaman yang dialaminya. Sebuah ruangan yang berfungsi sebagai markas PI atau Penghimpoenan Indonesia. Semua mahasiswa sebangsa telah berkumpul disana.

PI tahun 1938
Sumber: http://akhirmh.blogspot.co.id/2014/07/dr-parlindoengan-loebis-anak-batangtoru.html

“Baik kita buka rapat singkat ini” Parlindoengan Loebis, ketua PI angkat bicara

“Sekarang kita akan bergabung dengan kelompok perlawanan sehubung organisasi ini menjadi incaran Nazi jadi kita harus hidup bersembunyi. Sekarang kalian semua akan di bagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari lima orang…” Kami dibagi menjadi empat kelompok dan ditempatkan di empat kota yang berbeda, yaitu: Leiden, Rotterdam, Amsterdam, Den Hagg.

“Baik kalian adalah kelompok Soeropati, tempat kalian disini”ujar Loebis.

“Selain itu kalian akan menggunakan nama alias agar tidak dicurigai sebagai musuh. Buatlah sendiri nama tersebut dan biarkan sesama teman tahu !”perintah sang komandan.

Sekarang Namaku bukan Abdul Setyadinata melainkan Fritz van Deistrat. Kelompok Soeropati bertugas menerbitkan surat kabar bernama De Bevrijding bersama dengan kelompok perlawanan Belanda di Leiden. Selain itu radio menjadi barang penting bagi penerbitan koran ini karena surat kabar ilegal tersebut berisikan kabar dari pihak sekutu.

“Sekarang kalian selamat mengerjakan tugas masing-masing !”ucap Loebis. Setya dan Yudha alias Daniel van Hauten bersama kelompok Suropati bergabung dengan kelompok perlawanan Leiden. Aku ditugaskan di bagian redaksi sebagai pembuat berita. Kata-kata dukungan untuk pihak sekutu disematkan di dalam tulisan. Selain itu berita-berita yang berasal dari radio sekutu (BBC Inggris) juga di masukan dalam tulisan.

De Bevrijding Sumber: https://www.brilio.net/sosok/irawan-soejono-pemuda-indonesia-yang-melawan-nazi-hingga-akhir-hayat-160629a.html

De Bevrijding
Sumber: https://www.brilio.net/sosok/irawan-soejono-pemuda-indonesia-yang-melawan-nazi-hingga-akhir-hayat-160629a.html

Di lain pihak, SD dan Gestapo dibuat resah dengan kegiatan kaum perlawanan. mereka bukan saja mendapati tentang surat kabar dan pamflet ilegal, tapi juga aksi bersenjata yang dilancarkan oleh kaum perlawanan di Rotterdam. Mereka menyerang tempat distribusi makanan dan pos penjaga nazi sehingga memperoleh senjata.

Purnama menyinari jalanan Leiden. Tidak banyak orang yang berkeliaran malam karena takut kepada tentara pendudukan. Rasa diawasi terus membayangi pikiran. Sampai di apartemen, tanpa pikir panjang aku langsung masuk dan mengunci pintu. Rasa lelah membuatku memejamkan mata dengan pikiran penuh was-was.

                                                                 ***

RAZIA GESTAPO

Keesokan harinya, suara gedoran pintu membangunkanku. Gedoran itu semakin keras hingga seluruh tetangga mendengarnya. Buru-buru kubuka pintu, seorang tentara berada di hadapanku. Lambang dua petir di kerahnya bertanda itu adalah tentara Schutzstaffel atau biasa di sebut SS.

“Selamat pagi, boleh kami masuk ?” ujarnya dalam bahasa Belanda. Aku hanya mengangguk bertanda ya. Segera di perintahkan anak buahnya menggeledah seluruh apartemen.

“Maaf kami menggeledah sebentar”

“Tidak apa-apa, tapi ada apa ini sebenarnya” rasa penasaran sekaligus takut bercampur aduk. pikiranku terus mengatakan aku akan ditangkap.

“Kami baru saja menangkap orang bernama Parlindoengan Loebis, apa anda kenal ?”

“Tidak, saya tidak kenal”

“Kalau begitu maaf mengganggu, kami permisi” setelah selesai pengeledahan, mereka pergi.

Buru-buru kukayuh sepedaku menuju tempat persembunyian kelompok Soeropati. Seluruh anggotanya telah berkumpul disana, mereka semua telah kena razia oleh Gestapo.

“Harap tenang saudara-saudara sekalian” seorang diantara kami angkat bicara. “Sebelum saudara Loebis ditangkap, beliau telah berpesan kepadaku bahwa tetap lanjutkan perlawanan kalian karena sesungguhnya hanya itu yang bisa menolong beliau !”

Semua Hadirin diam seketika. Keadaan diruangan dipenuhi dengan keputusasaan. “Indonesia merdeka !!” teriakku melawan keputusasaan tersebut. Semua hadirin tampak terkejut dan ikut semangat. Pasalnya semboyongan tersebut diucapkan oleh salah satu pendiri PI, Moehammad Hatta saat membacakan pledoi di sidang. Tanpa rasa yakut kami melanjutkan perlawanan hingga Belanda bebas.

Berbulan-bulan lamanya surat kabar De Bevrijding terus beredar. Akan tetapi pada suatu hari saat radio milik kami sedang diperbaiki di rumah salah satu anggota PI. Gastepo menggeledah rumahnya dan menyita radio tersebut. Akhirnya kami berganti menjadi buletin yang berisikan semangat anti-Nazi.

Pada tanggal 3 April 1944. Yudha dan aku mengunjungi kantor redaksi PI. Keadaan disana sedikit tenang lantaran Jerman sedang mengalami kekalahan di Front timur dan sekutu telah mendarat di Italia. “Ada yang bisa kubantu kawan ?”. Jawaban untuk pernyataan tersebut ditunda saat tentara Gestapo mendobrak pintu. mereka berusaha menangkap kami.

“Ya, bantu aku tahan mereka” beberapa anggota bersamaku menahan serbuan gestapo. Kami berhasil merebut senjata hingga baku tembak pun tidak terelakkan. Namun akibat kurang Jumlah kami terus mundur dan melarikan diri. 8 orang tertangkap oleh gestapo. Kami akhirnya berkumpul di markas kelompok Soeropati.

Parlindoengan Loebis Sumber: https://www.otonomi.co.id/ragam/ini-orang-medan-yang-berhasil-lolos-dari-siksaan-kamp-nazi-170127i.html

Parlindoengan Loebis
Sumber: https://www.otonomi.co.id/ragam/ini-orang-medan-yang-berhasil-lolos-dari-siksaan-kamp-nazi-170127i.html

“Baik karena yang tertangkap beberapanya berasal dari Rotterdam, jadi mereka akan digantikan dari kelompok kita.” seorang dari Rotterdam meminta Yudha dan tiga orang lainnya untuk pindah. Mereka akan berangkat pada waktu tengah malam. “Hah.. akhirnya aku disuruh pindah”

“Begitulah Yudha, menjadi kelompok perlawanan memang susah.”

“Baiklah kalau begitu sampai jumpa kawan !”

“Sampai Jumpa !” Yudha akhirnya pergi bersama utusan dari Rotterdam tersebut. Sekarang tinggal menunggu kekalahan Jerman nanti.

Kapal maut Van Imhoff

FREIHERR: LIBURAN YANG KACAU

Tanggal 10 Mei 1940, Nazi Jerman menginvasi negara tetangganya Belanda guna mengepung rivalnya, Prancis. Hanya dalam lima hari, Nazi telah menguasai negara kecil tersebut. Ratu Wilhelmina beserta perdana menteri dan kabinetnya mengungsi ke Inggris. Sementara di timur jauh, Hindia Belanda berbagai macam aksi terjadi. Invasi di kampung halaman membuat Gubenur-Jenderal Jonkheer Mr. A. W. L. Tjarda van Starkenborgh Statchouwer mengumumkan keadaan darurat.

Pemerintah langsung mengeluarkan perintah balas dendam terhadap warga Jerman di Hinda Belanda. Kata Sandi “Berlin” telah keluar, artinya kepolisian harus menangkap serta menyita harta milik orang-orang Jerman. Semua yang berbau Jerman “dihilangkan” tanpa pandang bulu. Kebanyakan dari orang-orang Jerman disini adalah pekerja yang telah tinggal di Hindia Belanda bertahun-tahun.

“Bagus sekarang liburanku kacau” gumamku. Namaku Freiherr von Hantig dan aku adalah mahasiswa dari Unversitas Munich, Jerman. Saat ini aku sedang menghabis liburanku di Hindia Belanda bersama beberapa temanku. Nasib sial pasti sedang menimpaku sekarang.

Polisi menangkap seluruh warga Jeman di Buitenzorg. Para tahanan dibawa ke kamp-kamp khusus untuk menginternir kami. Letaknya sendiri berada di seluruh penjuru Hindia timur. Pulau Onrust menjadi kamp “ketakutan” bagi Kriminal maupun warga biasa di negara ini. Aku bersama orang jerman dari Buitenzorg dibawa ke Batavia.

Bendera Swastika di Pasar Baru
Sumber: http://unrevealed-history.blogspot.co.id/2013/04/hubungan-antara-nazi-dan-indonesia.html

Pemberhentian selanjutnya pulau Onrust. Pertama kali menginjakkan kaki disini sudah cukup membuatku mual. Pulau ini dijaga ketat oleh tentara KNIL, didalam kamp suara cacian dan hinaan keluar dari mulut tahanan yang kebanyakan Inlander. satu sel setidaknya diisi oleh lima orang. Fasilitas tidak memadai hingga keadaan sel yang buruk sudah menjadi tempat tinggal kami sampai dibebaskan.

“Freiherr von Hantig !” Panggilan dari seorang penjaga menyuruhku keluar. Aku dibawa ke sebuah ruangan dimana banyak pria interniran berkumpul. Tidak satupun diantara kami tahu apa yang terjadi. Semakin banyak lelaki Jerman yang masuk kesini, saat itulah aku bertemu temanku, Adolf Spier. Kami pun bertanya tanya apa yang terjadi.

“Saudara-saudara sekalian, kita akan dipindahkan ke kota Sibolga di Sumatra” Seorang juru bicara dari pihak internir memberitahu orang-orang di ruangan tentang rencana Belanda.

“Jadi mohon untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan berangkat !”

“Akhirnya !” gumamku. Terlihat semua orang mengeluarkan perasaan lega karena bisa keluar dari tempat ini. Walau begitu kami tetap dijebloskan ke kamp disana, semua orang memiliki pikiran yang sama “kapan penderitaan ini berakhir ?”.

                                                              ***

SERSAN NAZIB:”BERLIN”

“Sersan Nazib cepat kemari !” Panggilan datang dari ruangan Kapten Van Graf. Tergopoh-gopoh seorang pria bertubuh kecil menghampiri ruangan tersebut. Ya itu adalah aku, sersan Nazib seorang polisi di Nias.

“Hormat Kapten !” ujarku

“Nazib, sandi ‘Berlin’ telah keluar. Kau tahu apa yang harus kau lakukan ?”

“Siap Kapten, penangkapan warga berkebangsaan Jerman”

“Bagus… Sekarang Laksanakan”

“Siap Kapten !”

Segera semua polisi melaksanakan perintah dari Batavia. Orang Jerman yang tinggal di Nias sebagian besar adalah misionaris, sementara sisanya hanyalah orang yang tidak mengerti politik. Kepolisan desa bersama dengan militer KNIL Nias menciduk semua warga Jerman yang ada dengan pengecualian misionaris yang tersebar di seluruh pulau.

Kesempatan datang saat sebuah acara diadakan di gereja Nias yang terletak di Gunung Sitoli. Semua Misionaris yang sukar didatangi, datang dengan sukarela. Aku bersama dengan beberapa polisi menangkap ke 18 Misionaris Jerman setelah acara selesai.

Mereka untuk sementara waktu ditahan di kantor kepolisian setempat. Semua warga Jerman tersebut dipindahkan ke kamp di Sumatra. bersaaman dengan pemindahan interniran, detasemen militer Nias dipindahkan ke Sumatra. Bala bantuan datang dari Tapanuli berupa detasemen polisi. Dikemudian hari hal ini akan berakibat fatal hingga akhirnya bencana terjadi.

Polisi Hindia Belanda
Sumber:fourlook.com/post/kumpulan-foto-foto-polisi-jaman-kolonial-hindia-belanda-21130.html   

                                                   ***

FREIHERR: BENCANA DIMULAI

Sebuah berita datang dari Batavia dimana pasukan KNIL sedang bersiap mempertahankan tanah koloni. Pasukan Jepang menyerang pangkalan angkatan laut milik Amerika Serikat, Pearl Harbour. Berita tersebut membuat geger Hindia Belanda karena Jepang merupakan sekutu dekat Jerman menjadikannya ancaman.

“Bro, katanya Jepang bakal menyerang apa benar ?”

“Mana saya tahu ?”

Rumor Jepang akan menyerang telah menyebar ke seluruh negara koloni di Asia membuat semua tentara kolonial dari berbagai negara bersiaga termasuk di Hindia Belanda. Koninklijke Paketvaart Maatschappij (disingkat KPM) memiliki tugas khusus untuk mengirim interniran Jerman ke koloni Inggris di India. Mereka mengirim tiga kapalnya untuk mengirim interniran tersebut secara bergelombang. Salah satunya adalah kapal SS Van Imhoff.

Kapal SS Van Imhoff
Sumber:http://abahjajang-sabun.blogspot.co.id/2013/01/negara-republik-di-wilayah-nusantara.html

“Keluar kalian semua !” Seorang Sersan KNIL mengeluarkan aku bersama sisa interniran lain di kamp Sumatra. Menurut beberapa tentara KNIL disana, kami akan dibawa ke India tanpa alasan yang jelas. Sisa-sisa orang Jerman di Hindia timur akan dikumpulkan sebelum menaiki kapal bernama Van Imhoff.

“Hei, menurutku kapal ini sangat buruk”ujarku melihat keadaan kapal

“Buruk kenapa, menurutku biasa saja”jawab Adolf

“Hanya lima sekoci saja yang terdapat disana beserta satu perahu motor, perahu kerja dan beberapa rakit. Tidak ada bendera palang merah sebagai tanda membawa tawanan sehingga kapan saja kita bisa diserang” Jelasku. Adolf sependapat denganku melihat tidak ada bendera palang merah.

Kami ditempatkan di bagian geladak bagian burita kapal, sementara beberapa orang jerman ditaruh di lambung kapal. Semua jendela ditutupi kayu dengan beberapa celah sebagai sumber cahaya masuk.

Diluar, seorang pelaut memeriksa keadaan di langit. Tiba-tiba dia melihat sebuah pesawat besar memergoki kapal. Di sayapnya terlihat lambang matahari Jepang, diketahui pesawat tersebut kelas pembom. Mengetahui bahaya datang, dia langsung memberi peringatan bahaya. Semua awak bersiaga. Pesawat tersebut mulai menjatuhkan bom.

Dengan sigap, kapal berjalan zigzag. Dari celah kayu, aku melihat bom meleset disisi kira kapal. empat bom berhasil dihindari, akan tetapi… BOOM ! satu bom mengenai kapal. Ruang kargo hingga ruang mesin dibanjiri air. Interniran dibebaskan oleh seorang penjaga. Segera semua interniran menyerbu sekoci.

“Jangan bergerak, atau DOR !” todongan senjata membuat mundur semua penumpang. Empat sekoci dan kapal motor diambil awak dan pasukan penjaga. Aku menyaksikan mereka pergi dengan getir. Akhirnya aku bersama 13 orang lainnya menaiki perahu kerja serta menarik sekoci yang diisi 53 orang dan 134 orang lainnya menumpang enam rakit. sementara 276 lainnya tenggelam bersama Van Imhoff pada pukul 16:50.

Semua orang mendayung ke arah timur. Papan dan tangan menjadi alat mendayung kami karena semua dayung sudah lenyap diambil awak kapal. Semalaman kami mendayung tanpa henti. empat rakit hilang di kegelapan malam dan tidak pernah terlihat lagi. Pesawat PBY Catalina milik Belanda melihat kami dan memberi isyarat menuju utara.

Di sana terdapat kapal milik KPM bernama Boelongan. Dari pengeras suara, kapten kapal bertanya: “Ada orang Belanda disana ?”.

“Tidak, hanya orang Jerman !”. Jawaban tersebut membuat kapten kapal memerintahkan untuk menjauhi sekoci karena menganggap mereka sebagai musuh. Tidak ada yang bisa diharapkan sekarang, yang bisa kita lakukan hanya menunggu….

                                                                    ***

FREIHERR: DI NIAS

Selama tiga hari tiga malam berada di lautan telah terjadi banyak peristiwa. Beruntung penumpang dan awak dari kapal Boelongan memberi kami makanan dan minuman. Sore harinya dua rakit yang mengganggu mulai dilepas yang mengakibatkan sisa orang di rakit hilang ditelan lautan.

Pada tanggal 25 Januari 1942, Ke-67 orang yang tersisa mencapai pulau Nias. Lega rasanya mencapai pulau. Namun seorang diantara kami tewas saat mendarat dan seorang lagi hilang. Adolf dan aku mencari pertolongan ke penduduk sekitar.

“Tunggu sebentar, kalian pasti orang Jerman” seorang pastor Belanda bersama beberapa warga membantu kami. Beruntung salah satu Misionaris pernah tinggal di Nias sehingga telah saling kenal.

“Kalian orang Jerman ? Mari ikut saya !” seorang polisi bertubuh kecil menghampiri ku

“Ya betul, mau diapakan kami ?”

“Kalian saya tangkap ! atas perintah Kapten seseorang kami bawa ke kantor untuk diintegorasi !” ujar orang yang bernama Nazib tersebut.

Akhirnya aku mengajukan diri untuk dibawa ke kantor polisi sementara yang lainnya dibawa ke tangsi militer di gunung Sitoli. Aku dibawa ke sebuah ruangan. Disana telah terdapat seorang perwira Belanda disana.

“Hari yang berat ya ?”ujar sang perwira

“Ya..”jawabku singkat

“Berasal dari kapal mana kamu ?”

“SS Van Imhoff..”

“Sekarang Jelaskan apa yang terjadi !”

“Baik-baik, kami keluar dari kapal setelah diserang oleh pesawat Jepang dan hanya kamilah yang tersisa dari 478 interniran yang ada di Van Imhoff” jelasku.

Setelah selesai aku ditahan di tangsi tersebut hingga kami melakukan kudeta dan menguasai pulau selama beberapa hari sampai Jepang masuk.

Kudeta Nazi di Nias
Sumber: https://tirto.id/kudeta-orang-orang–nazi–jerman-di-pulau-nias-clyj

Delicious Bakery, the classic bakery

Papan toko bertuliskan “Delicious Bakery” menarik perhatian kami. Pasalnya toko roti ini merupakan salah satu toko tertua di Kota Bogor. Letaknya berada di Jalan Mawar No. 22, Bogor. Bangunan yang telah termakan usia tersebut masih berdiri kokoh walau tidak begitu terawat. Etalase roti jadul terpampang menyambut di pintu masuk. Hanya tersisa sedikit roti di etalase. Selain roti, jajanan pasar seperti lontong buras dan risoles tersedia disini.

IMG_20170408_165258_HDR

Roti jadul sangat jarang ditemui. Keberadaannya semakin jarang ditemui, bahkan bisa mencapai kepunahan. Hanya sedikit toko yang menjual roti tersebut, Delicious Bakery termasuk salah satu diantaranya. Ciri khas dari roti jadul adalah teksturnya yang kasar. Berbahan dasar hanya tepung terigu, mentega, dan ragi, tanpa menggunakan pengawet dan pelembut IMG_20170408_163521_HDR

Lukisan dan poster promosi tempo dulu menghiasi dinding dalam toko. Semuanya jadul dan tidak berubah. Sebuah foto hitam putih terpampang di diantara lukisan. Potret tersebut terlihat bentuk lama toko yang tidak berubah, hanya papan tokonya saja yang berubah. “31 Maret 1940″ adalah tanggal potret yang tertera di belakang frame.

Benda – benda lama seperti toples permen terlihat di belakang kasir. Sayangnya sekarang sudah tidak digunakan lagi. Tidak banyak benda-benda jadul yang digunakan di sini, namun masih disimpan. Langit – langit berbahan bilik bertahan melawan waktu yang berubah. Suasananya membuatku merasakan makan roti ditemani teh hangat dengan nuansa jadul.

  2017-04-21_09-15-17

Jarum jam menunjukan pukul 9 pagi.Roti hangat menyambut pembeli yang telah menunggu. Kebanyakan pelanggan adalah warga Bogor yang telah berusia lanjut. Harga setiap roti manis dibandrol 5 ribu rupiah dan untuk roti tawar dibandrol 13 ribu. Selain roti manis, ada juga roti gambang atau roti berbahan gula merah asli Indonesia, tersedia disini.

IMG_20170408_091905

Pak Kaman adalah generasi ketiga pemilik toko roti ini. Menurut beliau, kakeknya mengambil alih toko tersebut dari seorang Belanda di tahun 1940. Malah beberapa tahun yang lalu putra pendiri toko ini sempat berkunjung ke toko Delicious dan bernostalgia. Pada zaman kolonial, Delicious Bakery merupakan kafe tempat warga kelas atas berkumpul. Kebanyakan berasal dari daerah kota Paris yang berada tidak jauh dari toko Delicious.

IMG-20170419-WA0002

Berlanjut ke dapur dimana roti lezat dibuat. Keadaan disana tidak berbeda, akan tetapi semua mesin pembuatannya terbilang langka. Oven jadul yang menempel di dinding masih digunakan hingga kini. Cara mengaktifkannya, api disembur menggunakan penyembur dari belakang oven. Jika suhunya telah mencapai 100 derajat celcius, maka roti siap dipanggang.

2017-04-21_08-42-35

Selain oven, mixer adonan dan telur didatangkan pula dari Belanda pada tahun 1960-an. Adapula kompor minyak tanah ala zaman dahulu, sekarang sudah tidak digunakan lagi. Mulai subuh pukul 5-6, adonan dibuat dan dibentuk sesuai jenis roti. Barulah pada pukul 9, roti hangat dihidangkan.

Toko-toko jadul sudah hampir punah sekarang. Tidak jarang beberapa dari bagunannya telah beralih rupa, bahkan hancur, yang bertahan dilupakan oleh perkembangan zaman. Layaknya toko roti ini, berada di tengah zaman modern. Semoga toko jadul Delicious Bakery berkembang tanpa merubah bentuk aslinya.

IMG_20170408_164905_HDR

Mengenal Pabrik Gong Bogor

Sebuah Pabrik Gong tua bertempat di Jalan Pancasan Blok Mustofa No.32, Pasir Jaya, Bogor Barat, Kota Bogor, berdiri pada tahun 1842 dan masih aktif hingga sekarang. Plakat bertuliskan “Gong Factory” terletak di dekat gang menuju pintu masuk pabrik. Seorang pandai besi bernama Pak Ujang menjadi guide kami, dia telah bekerja di pabrik ini selama 30 tahun. Semua pekerja pabrik masih memiliki hubungan keluarga sehingga menjadi bisnis keluarga.

Pak Ujang memberitahu kami cara membuat gong dan sedikit sejarah tentang pabrik . Dia sendiri merupakan keponakan dari pemilik pabrik. Masa mudanya dihabiskan dengan bekerja bersama sang paman membuat gong. Hingga sekarang, Pak Ujang menjadi orang yang berpengalaman dalam pembuatan gong.

IMG_20170408_112128

Gong Factory Bogor

Gong adalah alat musik tradisional Vietnam yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Biasanya gong digunakan untuk ritual keagamaan atau hiburan semata. Di Indonesia sendiri Gong menjadi alat untuk upacara dan ritual keagamaan. Alat musik ini juga beradaptasi menjadi gamelan dan bonang di Jawa dan gamelan gong gede di Bali. Hingga sekarang banyak pabrik gong tersebar di seluruh Indonesia termasuk di Bogor.

IMG-20170409-WA0003

Sebelum dan Sesudah ditempa

Di tempat produksi sangat gelap karena mereka masih menggunakan teknik tradisional, yaitu harus melihat warna pelelehan campuran besi yang terdapat didalam gong agar tidak pecah saat dipanaskan. Pada zaman sekarang teknologi untuk mengukur suhu sudah ada. Namun karena masih menggunakan cara tradisional, mereka masih melihat warna gong sebagai titik lelehan. Diperlukan orang yang sudah berpengalaman untuk melakukan teknik lama.

Tahap pertama pembuatan  adalah menyatukan tembaga dan timah dengan cara dipanaskan dan ditempa hingga menyatu. Tembaga dan timahnya sendiri memiliki komposisi khusus agar menghasilkan suara. Penempaan dilakukan berulang kali selama empat jam hanya untuk membuat gong berukuran kecil. Alat tempanya sendiri memiliki bobot 5 kg, untuk menempa gong diperlukan tiga orang pandai besi.

IMG-20170409-WA0004

Penempaan Gong

Selesai membuat gongnya, giliran membuat tonjolan atau panchu di depan gong. Cara membuatnya hampir sama yaitu ditempa, namun terdapat lubang khusus untuk membuatnya. Kemudian tonjolan tersebut disatukan dengan cara dipanaskan. Setelah selesai, alat musik tersebut dibersihkan dan di periksa suaranya. Jika suaranya jelek atau tidak keluar, maka gong dikerok lapisan perunggunya hingga menghasilkan suara yang bagus.

IMG_20170408_110204

Bapak Soekarna merupakan generasi ke enam dari pemilik pabrik ini. Usianya telah mencapai 89 tahun dan masa mudanya pernah menjadi pembuat gong. Pendengaran sang bapak mulai kabur sehingga saat wawancara kami harus berbicara dengan suara lantang. Selain seorang pembuat gong, dia juga merupakan ahli gong yang dapat menentukan bagus atau tidaknya suara dari alat musik tersebut.

Wawancara dilanjutkan ke ruang penerimaan tamu atau pengunjung, terdapat dua buah gong disana. Menurutnya gong yang bersuara “sehat” merupakan gong dengan suara bergema. Gong pertama memiliki suara “sehat” dibandrol dengan harga 3 juta rupiah. Sementara gong kedua memiliki suara yang tidak bergema atau “tidak sehat” dibandrol dengan harga 400 ribu rupiah saja. Selain itu alat musik yang serupa seperti gong juga diproduksi disini. Suara Gong juga memiliki usia, menurut Pak Soekarna usia dari gong bervariasi, dapat mencapai ratusan tahun.

IMG-20170409-WA0001

Dulunya pabrik ini dapat menghasilkan gong berukuran besar seperti Gamelan Jawa. Akan tetapi seiring waktu berjalan, tidak ada yang mampu membuatnya lagi seperti dulu. Bapak Soekarna merupakan pembuat gong terakhir yang dapat membuat gong berukuran besar. Begitu bapak Soekarna pensiun, penerusnya tidak lain adalah putranya. Sekarang produksi gong berukuran kecil terus berjalan walau tidak banyak pesanan seperti dulu.

Biasanya pesanan datang dari luar negeri, terutama dari Eropa dan Amerika. Bahkan dulu banyak orang luar negeri datang kemari. Gong Factory Bogor selalu mengekspor gong-gong ke luar negeri seperti Kanada dan Belanda. Selain itu dari dalam negeri, Freeport menjadi salah satu pelanggan mereka. Gong pesanannya selalu dibawa ke Papua dari bandara Halim Perdana Kusuma. Hingga sekarang pun masih ada pengunjung dari luar negeri hanya sekedar untuk melihat pembuatan gong saja.

Sekarang pelanggan gong kian menurun. Kadang kala produksi terhambat akibat tidak ada pesanan lagi. Saat hari raya umat beragama Buddha dan Kong Huchu, pesanan makin meningkat, akan tetapi itu hanya sementara. Walau begitu pabrik bersejarah ini tetap berdiri ditengah jaman yang kian berubah.

IMG-20170409-WA0002

Jelajah Stasiun Kereta Api

Stasiun Rawabuntu menjadi awal dari destinasi stasiun bersejarah di Jakarta. Tujuan pertama adalah Stasiun Tanjung Priok. Salah satu stasiun tertua di Jakarta ini baru dibuka untuk jalur Jakarta Kota – Tanjung Priok dengan menggunakan kereta Commuter Line pada tanggal 21 Desember 2015 setelah mati suri selama 26 tahun.

Stasiun Tanjung Priok merupakan salah satu stasiun tertua di dunia. Berdiri pada tahun 1885, awalnya hanya berupa stasiun kecil berbentuk seperti rumah yang menjadi pintu gerbang trasportasi Hindia Belanda.

Renovasi dilakukan oleh Ir.C.W.Koch pada tahun 1914 dan diresmikan tahun 1925. Letaknya berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok membuat banyak barang yang di distribusikan melalui stasiun ini. Selain itu pada zaman kolonial, orang-orang yang hendak berangkat haji juga pergi melalui kapal di pelabuhan, sehingga banyak orang yang berlalu-lalang antara stasiun dan pelabuhan.

Sekarang keadaan stasiun masih seperti aslinya. Karena telah menjadi cagar budaya, perawatannya sangat baik. Selain distribusi barang, perjalanan kereta langsung ke Cikampek dan Purwakarta juga tersedia disini. Sebuah jam tua yang menunjukan pukul 12.15 masih terawat dengan baik. Pagar besi yang menjadi pintu keluar dari peron masih terlihat kokoh .

IMG_20170325_120140

Di peron bagian tengah terdapat sebuah menara kecil berfungsi sebagai menara pengawas sekaligus control kereta, baik datang maupun pergi dari sini. Terdapat dua menara, menara pertama di luar hanggar stasiun dan yang kedua berada di dalam hanggar. Menara kedua saat itu sedang dibersihkan sehingga aku tidak dapat melihat secara dekat.

                                                                  ***

Perjalanan dilanjutkan ke Stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini dibangun dengan nama Batavia Zuid atau Batavia Selatan. Batavia juga memiliki Stasiun bernama Batavia Noord, namun sudah tidak digunakan lagi sejak 1929 saat Batavia Zuid selesai di renovasi. Pada tahun 1870. Awalnya hanya berupa stasiun sederhana yang terhubung ke Batavia Noord.

Hingga tahun 1926 stasiun di tutup dan renovasi dimulai. Arsitek Belanda kelahiran Tulungagung bernama Frans Johan Louwrens Ghijsels menjadi perancang gedung stasiun baru. Pembangunan gedung memakan waktu 3 tahun hingga tahun 1929 stasiun ini kembali dibuka dengan nama Beos. Terdapat dua versi kepanjangan dari Beos, yaitu Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur) dan Batavia En Omstreken (Batavia dan sekitarnya).

IMG_20170325_125110

Salah satu stasiun tersibuk di Jakarta, masih terlihat keasliannya. Warga Jakarta maupun warga di daerah lain berkumpul di sini untuk pergi ke tujuannya masing-masing lantaran stasiun ini merupakan pusat dari stasiun yang lain. Walau telah dijadikan cagar budaya, sikap masyarakat yang kurang peduli sejarah masih terlihat dengan mengotori stasiun. Cleaning service bekerja keras membersihkan stasiun dari sampah dan kotoran.

Selain itu di pintu depan stasiun angkot-angkot dan pedagang kaki lima merajarela. Akibatnya akses masuk stasiun tertutup bahkan pengemudi yang akan memarkirkan kendaraannya kebingungan karena pintu masuk parkiran terhalang dengan mobil angkot. Penataan yang buruk membuat citra stasiun ikut memburuk, seharus pemerintah mengurus hal tersebut dengan baik agar terminus ini kembali wibawanya.

                                                                 ***

Manggarai terkenal dengan stasiunnya yang menjadi transit sebelum menuju Bekasi, Depok, dan Bogor atau sebaliknya menuju Tanah Abang dan Jakarta Kota. Jalur Batavia-Buitenzorg 1873 dan dibangun stasiun pada tahun 1914. Dulunya Manggarai ini merupakan tempat tinggal sekaligus pasar budak asal Manggarai, Flores. Stasiun ini juga menjadi transportasi budak dari pelabuhan atau menuju Batavia.

Pembangunan selesai pada tahun 1918. Walau begitu stasiun terbilang belum mencapai target alias belum selesai secara keseluruhan akibat meletusnya perang dunia pertama. Besi-besi yang menjadi bahan utama, dipakai menjadi senjata dan peluru demi keperluan perang.

Kejadian bersejarah terjadi pada tanggal 3 Januari 1946, rombongan Presiden Soekarno menumpang Kereta Luar Biasa (KLB) berangkat menuju kota Yokyakarta dari pengangsaan. Persiapan dilakukan di stasiun ini lantaran rumah Soekarno terletak di pinggir rel kereta antara stasiun ini dengan Gambir.

IMG_20170325_133108

 

Tidak banyak perubahan dari stasiun ini. Hanya tambahan tangga menuju bawah rel untuk ke peron-peron. Namun ada pula penyebrangan antar peron melalui rel. Penataan yang buruk membuat banyak penumpang memilih menyebrangi rel ketimbang melewati bawah rel. Cara menyebrang seperti itu membahayakan karena kita dapat tertabrak kereta api. Selain itu banyak  yang menyebrang  dengan cara memasuki kereta api saat sedang berhenti atau menunggu berangkat. Hal ini juga mampu membawa warga yang sedang menyebrang.

Terlihat banyak kotoran dan sampah yang berserakan tidak terurus. Banyak calon penumpang yang makan di tangga untuk penumpang saat turun dari kereta. Fasilitas tidak begitu memadai seperti tempat duduk untuk penumpang. Stasiun ini bisa dibilang stasiun terburuk menurut saya akibat penataan yang tidak tepat dan fasilitas yang tidak memadai.

                                                               ***

Tujuan akhir dari perjalanan ini adalah Stasiun Bogor. Dibangun tahun 1872 dan dibuka pada tahun 1873. Awalnya digunakan untuk melayani jalur Batavia-Buitenzorg hingga tahun 1881 dibuat yang untuk jurusan Buitenzorg-Sukabumi hingga mencapai Stasiun Tugu Yogyakarta. Bangunan aslinya masih dapat dilihat hingga sekarang, terdiri dari dua bangunan yaitu pintu masuk hingga kantor dan peron stasiun.

Stasiun asli masih digunakan hingga 2009 ketika Kementrian Perhubungan melakukan renovasi dan membuat stasiun baru didekatnya. Untuk jalur Bogor-Sukabumi dipindah ke stasiun Paledang yang letaknya tidak jauh. Walau gedung lama tidak digunakan, restoran cepat saji dan minimarket disana tetap buka melayani penumpang.

IMG_20170325_155950

 

Namun Keadaan diluar stasiun cukup berantakan. Jalan keluar dari stasiun sendiri cukup membingungkan. Kita harus menaiki sebuah tangga menuju jembatan layang, jika mau ke taman topi di sebelah stasiun, kita harus turun kembali melalui tangga yang berada di tepat sebelah tangga sebelumnya. Pagar pembatas membuat warga tidak bisa menyebrang melalui jalan, harus melewati jembatan layang.

Pedagang kaki lima merajarela di depan gedung lama. Jalan menuju pintu masuk gedung lama dipenuhi dengan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Mirisnya lagi depan stasiun lama telah menjadi parkiran motor walau sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Penataan yang buruk, itulah yang menjadi pikiranku selama disana. Stasiun tua menjadi saksi bisu sejarah Indonesia, jika tidak dirawat mungkin di masa mendatang tidak ada lagi bangunan bersejarah yang menjadi penanda perkembangan zaman.

IMG_20170325_150020

Menyusuri Kampung Pecah Kulit Bagian 2

sebuah masjid kecil bernama Masjid Nurul Abror yang terletak di jalan mangga dua dalam. Masjid kecil ini telah berumur ratusan tahun, walau telah dipugar. Berdiri pada zaman penjajahan, sebelum menjadi tempat ibadah bangunan ini merupakan sebuah rumah kompeni hingga direbut oleh Habib Alwi Bin Ahmad Jamalullai. Terdapat dua makam di dalam masjid, diantaranya adalah pendiri masjid ini.

Tepat di sebelahnya terdapat makam dari penyebar agama islam di Jakarta, yaitu Sayyid Abubakar Bin Alwi Bahsan Jamalullai. Makamnya terdapat di dalam sebuah rumah kecil yang dibangun khusus agar dapat menampung peziarah. Walau begitu masjid dan rumah kecilnya menyabung dan hanya di dipagari dengan pagar kayu. Pembangunan dari rumah kecil itu sendiri masih terlihat baru lantaran bahan bangunan masih terdapat di dalamnya.

IMG_20170219_104243

Meskipun telah menjadi cagar budaya, kurangnya perawatan masih terlihat, contohnya cat yang telah mengelupas. Ditengah masjid terdapat sebuah mimbar, tepat didepannya adalah dua makam. Sayang kami tidak dapat menulusuri lebih lanjut lantaran sedang khotbah sehingga kami hanya boleh menulusuri di bagian depan saja.

Tidak jauh dari masjid ini, terdapat masjid lain yang bernama Masjid Jami Pangeran Jayakarta. Letaknya tepat di pinggir jalan Pangeran Jayakarta, didalamnya terdapat makam dari K.R.M Adipati Sukarya Sosrodiningrat, Putra dari Sultan Pakubono II. Memang masjid ini tidak menjadi bagian dari perjalanan ini, namun saya bersama keluarga pernah datang pada saat bulan puasa tahun 2014.

Tujuan dari akhir dari tour ini adalah makam Kapiten Souw Beng Kong, Seorang Kapiten China pertama di Jakarta. Beliau lahir Di Fujian, Tiongkok pada tahun 1580 dan pindah ke Banten untuk membuka perkebunan Lada di sana. Jan Pieterszoon Coen menjadikannya sahabat karibnya sekaligus orang kepercayaannya karena ia sangat ahli dalam perdagangan.

Selain itu beliau pula yang mendatangkan warga Tionghoa ke Batavia setelah didesak dua kali oleh Jan Pieterszoon. Awalnya ia menolak, namun setelah di iming-imingkan harta, beliau pun setuju mendatangkannya dari daerah kelahirannya, Fujian. Nasib berubah, setelah melaksanakan perintah sang gubenur, ia langsung menjadi pejabat urusan warga Tionghoa. Pada April 1644, Beliau wafat dan atas wasiatnya, jenazahnya dimakamkan di perkebunan miliknya. Layaknya makam warga Tionghoa, hartanya ikut dimakamkan karena menurut kepercayaan Tiongkok, ada kehidupan setelah kematian. Itulah yang membuat makamnya seperti gunung kecil.

IMG_20170219_112628

 

Makamnya sekarang berada di antara pemukiman penduduk, disekelilingnya dipasang pagar pembatas agar warga sekitar maupun turis tidak merusak makam ini. Setiap minggu, sebuah yayasan bernama Souw Beng Kong merawat makam ini, namun sekarang hampir tidak ada yang merawat. Terlihat cat dimakam ini mulai mengelupas bahkan berjamur. Lantai depan nisannya juga sudah berlumut dan digenangi air akibat hujan melanda Jakarta.

Berakhirlah penulusuran kita di kampung pecah kulit. Banyak tempat-tempat bersejarah di daerah ini tidak terawat bahkan nilai historisnya juga sudah hilang seperti di Masjid Nurul Abror. Selain itu pemukiman yang padat juga menyebabkan beberapa makam dan bangunan mulai menyempit daerahnya seperti yang terjadi di makam Raden Ateng Kartadria, Kapiten Souw Beng Kong, dan Gereja Sion.

Meski Begitu kita juga harus ikut merawatnya karena tanpa sejarah, tidak ada masyarakat seperti sekarang. Hasil tour ini kami mendapatkan kisah sejarah yang menarik atau bahkan mulai dilupakan oleh orang lain. Kalau sampai ketemu lagi di cerita selanjutnya.

IMG-20170219-WA0007